Arsip

Archive for the ‘Wisata Budaya’ Category

Tari Payung-Tari Muda Mudi asal Sumatera Barat

29 September 2010 1 komentar

Tari Payung adalah salah satu tari klasik dari Daerah Minang dan menggambarkan kasih sayang seorang kekasih yang dilambangkan dengan melindungi dengan payungnya.

Tarian ini memang merupakan tari pergaulan muda-mudi sehingga dibawakan secara berpasang-pasangan. Selain menggunakan payung sebagai alat bantu yang dimainkan oleh penari pria, bisa juga ditambah dengan selendang untuk penari wanita.

Musiknya cukup variatif, mulai dari agak pelan, lalu agak cepat dan cepat, sangat dinamis. Tari ini biasa dibawakan untuk memeriahkan acara pesta, pameran, dan lain sebagainya.

http://www.kidnesia.com

Tokoh,Pejuang,Pendidik dan Pengusaha Perempuan dari Minangkabau

29 September 2010 Tinggalkan komentar

sitti manggopoh

Tidak banyak orang mengenal pejuang wanita dari Ranah Minang ini. Mungkin karena berjuang di wilayah lokal sehingga keharuman namanya tidak seperti KARTINI. Kartini memiliki keberuntungan – karena di polulerkan oleh Orang Belanda – yang menjadi teman curhat dalam tulisan – tulisan yang bernilai sastra. Kemudian surat -suratnya itu di populerkan dalam suatu thema yang berjudul : HABIS GELAP TERBITAH TERANG. Apa yang dikemukakan KARTINI sangat pas kala itu disaat Hindia Belanda sedang merealisasikan politik balas budi. Meskipun zaman berbeda dari dua orang wanita ini – namun memiliki kesamaan dalam semangat.

Siapakah Sitti Mangopoh ini ?. Sitti Mangopoh adalah perempuan pejuang dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. “Perempuan pejuang yang berjuang bersama kaum laki-laki tanpa mengenal perbedaan jenis gender. Ia tidak mengusung idealismenya dalam tuntutan  persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Yang dilakukannya adalah menggelorakan semangat anti penjajahan.

Kita mengenal sosok padusi minang yang berkiprah sesuai dengan bidangnya, seperti ROHANA KUDUS, HR RASUNA SAID. RAHMAH EL YUNUSSIAH, dll namun orang tidak ada yang Siti Manggopoh. Sitti Manggopoh turut berjuang untuk mengusir penjajah dari Kampung halamannya dan juga Indonesia pada umumnya.

DR. DAMSAR , sosiolog dari Universitas Andalas Padang mengatakan, Siti Manggopoh merupakan gong perjuangan kebangkitan kaum perempuan dalam kancah politik.  ”Siti Manggopoh berjasa dalam menegakkan marwah rakyat tertindas. Pantas gelar pahlawan Nasional pantas diberikan kepada dia. Gelar tersebut telah diberikan masyarakat Minangkabau, namun belum diberikan oleh Pemerintah Indonesia,” katanya.

Sitti Mangopoh – mengalami nasib yang sama – seperti pejuang yang tidak dikenal lainnya. Terabaikan jasa-jasanya hanya karena Instansi  yang berkompeten atau tokoh – tokoh didaerahnya atau siapapun Ia – tidak gigih memperjuangkannya sebagai pahlawan nasional.

Jika kita bandingkan dengan Raden Ajeng Kartini, perjuangan Siti Manggopoh tidak kalah besarnya dalam sumbangannya bagi bangsa Indonesia.  Apakah Siti Manggopoh layak diberi gelar  pahlawan nasional ?

Bagi masyarakat minangkabau – mengangkat jasa dan kiprah Sitti Mangopoh dalam perjuangan melawan penjajah patut di beri dukungan. Ia sebenarnya adalah pelaku sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Jangankan Ia disebut dalam buku sejarah nasional, jasa Siti Manggopoh hampir tak pernah dikenal dilingkungan masyarakat minangkabau sendiri. Ia seakan tidak dipedulikan. Kalaupun disebut, hanyalah ketika orang mengenang jasa pahlawan – pahlawan wanita lainnya.

Akankah Ia akan bernasib sama dengan peranan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang tidak secara khusus dianggap sebagai pemerintahan yang kedaulatan negara.

Sebagaimana yang ditengarai oleh peneliti dan sejarawan Dr Mestika Zed MA

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Yoghurt Alias Dadiah-Olahan Susu Kerbau Murni Dari Minangkabau

27 September 2010 3 komentar

DadiahDadiah: Siapa yang tidak kenal dengan yoghurt. Makanan satu ini sangat populer terutama bagi mereka pemerhati kesehatan. Menurut wikipedia, yoghurt merupakan olahan dari susu sapi yang mengalami fermentasi gula susu menghasilkan asam laktat , yang berperan dalam protein susu untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan bau yang unik pada yoghurt. Yoghurt  dapat menghasilkan prebiotik yang berguna bagi pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan banyak manfaat lainnya.

Tapi, tahu tidak kalau ternyata Sumatera Barat dengan budaya Minangkabau nya punya yoghurt sendiri? Yap, yoghurt ini dinamakan Dadiah. Dadiah juga merupakan olahan dari susu fermentasi. Namun, yang menjadi ciri khasnya adalah dadiah dibuat dari susu kerbau dan difermentasikan secara tradisional.

Fermentasi dadiah cukup sederhana. Pertama-tama susu kerbau segar yang baru diperah disaring untuk memisahkan kotoran atau benda asing yang masuk selama pemerahan, kemudian dimasukkan ke dalam tabung bambu yang telah dipotong (dengan panjang masing-masing ± 5 cm dari ruas/buku bambu).

Bambu yang digunakan harus masih segar atau belum kering, karena dari hasil penelitian buluh pada bagian dalam bambu inilah yang mengandung bakteri asam laktat (BAL) yang membuat susu kerbau menggumpal menjadi dadih. Kedua, tabung bambu yang telah berisi air susu kerbau ini ditutup dengan daun pisang atau plastik dan diikat dengan karet gelang. Ketiga, tabung bambu yang telah berisi susu kerbau dibiarkan dalam ruangan yang tidak kena sinar matahari langsung (difermentasi) selama ± 2 hari atau sampai menjadi kental/menggumpal.

Nah, cukup sederhana, kan? Tapi, jika bicara tentang kandungan nutrisinya, dadiah tidak ketinggalan. Sama halnya dengan yoghurt tadi, bakteri laktat yang terkandung di dalamnya mampu menghasilkan prebiotik yang berguna bagi kesehatan tubuh. Dapat menurunkan kolestrol sehingga berguna sekali bagi yang menjalani program diet.

Tenang, meski dadiah memiliki rasa asam di lidah, kini dadiah mulai divariasikan ke dalam bentuk makanan lain seperti es krim, cake, brownies, dan aneka makanan penggugah selera lainnya.

Jadi, tak ada salahnya mulai saat ini kita mengkonsumsi dadiah ini. Seperti ungkapan: “sambil menyelam minum air”, dengan mengkonsumsi dadiah selain ikut mempopulerkan makanan khas negeri sendiri, kita juga mendapat serangkaian gizinya.(*)

Sumber:Inioke

Rumah 20 Ruang dan jenjang 1000-Sulit Air

26 September 2010 Tinggalkan komentar

Nagari Sulit Air merupakan salah satu nagari yang luas di Sumatera Barat. Nagari ini adalah terletak di Kecamatan Sepuluh Koto Di Atas, Kabupaten Solok (Utara). Lokasinya dari pinggir Danau Singkarak lebih kurang 12 km melewati nagari Tanjung Balik dan Paninjauan.

Ada sembilan Nagari di Kecamatan X Koto Diatas :

- Sulit Air

- Tanjuang Baliak

- Paninjauan

- Pasilihan

- Bukit Tanduang

- Siberambang Ateh

- Kuncia

- Katialo

- Lubang Panjang

Nagari Sulit Air ini memiliki beberapa kekhasan alam dan budaya, di antaranya adalah Gunung Merah Putih, Rumah Gadang terpanjang 20 Ruang, Jenjang 1000, Batu Tergantung, dan beberapa peninggalan adat-istiadat yang agak berbeda dengan peninggalan-peninggalan adat Minangkabau pada umumnya.
Masakan khas daerah ini adalah “samba hitam” yang dibuat dari bumbu buah galundi (seperti biji kopi). Namun sudah tidak banyak yang memproduksi samba hitam ini. Beberapa rumahtangga dariurang saisuakmasih mahir dalam membuat samba hitam yang dikombinasikan dengan daging ayam, maco atau daging sapi.
Kapalo nagarinyo bernama Firdaus Kahar.
Ada beberapa suku di nagari Sulit Air, Limo Panjang, Limo Singkek, Simabur dan Piliang.
Sebagian besar masyarakat asli Sulit Air hidup di perantauan. Mereka memiliki organisasi perantauan yang dinamakan SAS (Sulit Air Sepakat) dan IPPSA (ikatan Pemuda Pelajar Sulit Air). Banyak sekali peran serta masyarakat perantauan dalam pembangunan nagari sejak berpuluh puluh tahun lalu.
Ada beberapa alasan kenapa anda harus berkunjung ke nagari ini :
>Pemandang alam yang indah
>Peninggalan budaya seperti rumah gadang, batu bagantuang dsb.
>Mencicipi makan khas “samba hitam
>Melihat pembangunan hasil sumbangan warga perantauan untuk kaji banding

Dari Sulit Air anda bisa melanjutkan perjalan ke danau Singkarak, Tanah Datar dan Bukittinggi atau kota-kota lain di Sumatera Barat.

Sumber:Sulit Air

Batik Tanah Liek-Batik Minangkabau

24 September 2010 2 komentar

Batik Minangkabau ini disebut batik tanah liek, karena batik yang asalnya dari Sumatera Barat itu salah satu pewarnanya adalah tanah liek, yaitu tanah liat. Ada bermacam-macam sumber pewarna alam lainnya. Ada yang dari kulit jengkol, kulit rambutan, gambir, kulit mahoni, daun jerame dan masih banyak akar-akar lainnya yang juga digunakan.

Batik Tanah Liek menurut sejarahnya berasal dari Cina yang dibawa oleh pedagang Cina. Karena indahnya wanita Minang memanfaatkan batik ini untuk selendang. Harganya tergolong mahal Sehingga hanya digunakan pada acara-acara tertentu saja. Pada acara itu pun hanya dipakai oleh ninik mamak dan bundo kanduang, atau panutan adat. Selendang ini selalu dipertahankan oleh orang Minang sebagai kerajinan peninggalan nenek moyang.

Jika batik daerah lain banyak mengadopsi motif-motif flora, motif batik tanah liek Pessel banyak terinspirasi dari binatang-binatang laut seperti, kuda laut, dan biota lain. Hal ini kata Ketua Dekranasda Pessel Ny Wartawati Nasrul Abit disebabkan topografi daerah tersebut yang terletak di pesisir pantai sehingga masyarakatnya sangat akrab dan dekat dengan laut. Sehingga biota laut yang beranekaragam dan memiliki keindahan tersendiri menjadi inspirasi untuk menciptakan karya seni atau kerajinan tangan seperti batik.

“Batik Pessel ada 9 motif, 6 motif laut dan 1 motif flora, yakni kaluak paku untuk pinggir kain,” kata Wartawati yang getol mengangkat potensi daerah ini ke dunia luar didampingi pengurus Dekranasda, Suryani. Sejarah batik tanak liek Pessel berawal sejak zaman dulu, saat batik berupa selendang dipakai hanya untuk acara adat. Warna batik hanya ada dua, warna tanah dan hitam.

Warna tanah didapatkan dari merendam kain dalam larutan tanah liat. Sedangkan warna hitam diperoleh dari larutan kulit jengkol yang direndam dalam air. Seiring perkembangan zaman, dan tuntuan pasar, batik tanak liek Pessel berkembang menjadi aneka fashion seperti baju stelan, pakaian gamis, jilbab dan kemeja atau baju koko untuk laki-laki. Warna pun kian beragam sesuai selera pasar.

Ada warna-warna cerah, seperti merah, merah muda, biru, hijau hingga warna-warna soft dan perpaduan warna yang cantik. Dasar kain tidak hanya sutera yang ringan dan nyaman tapi juga ada santung dobi dan lainnya. Hingga kini batik tanah liek Pessel sudah berkibar di mana-mana, baik di nusantara maupun mancanegara.

Artikel ini saya dapat dari sahabat terbaik :Aku Cinta Batik

Olah Raga Unik-Pacu Itiak Payakumbuh

23 September 2010 Tinggalkan komentar

Pacu Itiak (itik) Merupakan satu olah raga unik yang digelar oleh masyarakat Payakumbuh. Itik yang diperlombakan adalah itik khusus yang berusia antara 4-6 bulan. Keunikan dari Perlombaan ini adalah pada tempat penyelenggaraanya yang bukan dilakukan di sungai atau kolammelainkan diudara. Pacu itik dilombakan dengan jarak terbang yang sudah ditentukan seperti 800 m, 1600 m, dan 2000 m. Pemenangnya adalah itik yang dapat terbang diatas jalur yang ditentukan dengan pencapaian garis finish lebih awal

Sumber:Payakumbuh Kota

Terpikat Gadis Minang-Adat Pernikahan Minangkabau

17 September 2010 Tinggalkan komentar

Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.